Sunday, June 24, 2012

Welcome To My Room

Hari ini, gue yang menjabat sebagai ketua dewan penasihat Asosiasi Jomblo Nusantara sedang melakukan kegiatan rutin membersihkan kamar sehabis nonton FTV. Ya, gue memang bermental pembantu kronis. Tapi gapapa, apapun bakal gue halalkan kalo menyangkut perihal menonton Eza Gionino dari balik layar kaca.


Gue menemukan dua barang yang menarik perhatian dan pemikiran filosofis gue. Barang apakah itu? Yuk, kita intip sama-sama. Sesuai dengan asas no pic sama dengan hoax, jadi gue sertakan gambar sekalian.




KENALAN DULU





Siapakah dia? Mungkin kamu bertanya-tanya.

Namanya Tom. Dia adalah seorang/seekor/sebuah teman yang sangat gue junjung tinggi hakikatnya di kamar gue. Namanya sendiri, terinspirasi dari pemuda hot bernama Tom Felton. Kalau kamu gak tau, pasti kamu bukan anak gaul. Tiap malem minggu pasti kamu nongkrongnya di kober Kalibata makan bubur, atau ke tikungan Mampang nyari banci udzur.


Ini siapa? Kayak kenal...

Aduh, masa kamu gak tau. Namanya Doraemon. Seperti yang kita tahu, Doraemon adalah robot teman yang sangat disayangi Nobita. Yang gue tunjukkan disini adalah mini figure-nya yang lucu abis. Gue memang hobi mengoleksi aneka action figure, tapi sampai saat ini belom kesampean beli Nendroid. #kode



DORAEMON AND FRIENDS




Yak, sampailah kita pada topik pembahasan.

Buat yang kenal gue banget, pasti tau dong kalo gue suka banget sama Doraemon. Tapi gak semua orang tau alesan dibalik itu. Kebanyakan pasti ngira gue suka karena Doraemon itu chibi chibi gitu deh. Tidak, kalian salah besar. Doraemon itu gak ada chibi-chibinya samasekali. Read my lips, samasekali. Wujud real dari Doraemon di kehidupan nyata adalah sebuah robot ngehe berkumis, dengan intensitas lipid yang luar biasa, dan perut buncit bagaikan produser India dan oom-oom senang. Ditambah lagi dengan suara yang kayak Justin Bieber belom kebagian jatah mimpi basah. Ini merupakan suatu fenomena yang menyeramkan sekali, kawan. Tapi sekali lagi, gue mencoba realistis disini.
Gue suka Doraemon, karena gue tertarik dengan cara creatornya menyajikan sebuah cerita 'Semua Umur' yang universal dan sederhana, mudah dipahami. Dibandingkan dengan komikus jaman sekarang, pencitraan yang diselesaikan Fujiko Fujio tentu saja bukan apa-apa, mengingat setting cerita statis alias hanya disitu-situ saja. Kecuali mungkin, untuk edisi movie dan petualangan.
Tapi dibalik kesederhanaan penyajian itu, kita pun terbuai untuk masuk ke dalam dunia Si Bodoh Nobita yang entah kenapa dapet nilai nol terus tapi gak pernah veter. Menurut gue, tiap karakter dari komik Doraemon ini punya jatah analisis-able tersendiri. Gue beri contoh untuk tokoh-tokoh dominan aja deh :


SHIZUKA


Udah kenyang rasanya nontonin Shizuka mandi dari komikusnya masih idup sampe udah mati. Tokoh ini punya ciri khas sebagai cewek feminim pada umumnya: suka boneka dan masak, rajin, sensitif, penyayang. Mungkin disini, Mr. F mau menyajikan tokoh perempuan stabil dan terkesan cari aman. Karena kalo tokohnya cowok semua, bisa-bisa ganti genre jadi shonen.


GIANT


Kombinasi abstrak yang menurut gue keren: tukang bully, gendut, kuat, sayang adik, takut Ibu, suka nyanyi, bodoh. Ada gak sih yang kayak gini di kehidupan nyata? I mean, jaman sekarang tuh figur orang gendut kebanyakan dijadikan tokoh yang suka makan, selipan komedi kilat, dan jadi bahan buat lucu-lucuan doang. Jarang tuh gue liat orang gendut punya feelings yang bisa diacak-acak; dari sosok pemarah ternyata penyayang, dari tukang tindas ternyata setia kawan. Semua itu cuma bisa lu dapetin di Doraemon.


SUNEO



Suneo itu menarik karena, label "orang tajir pasti sombong" dekat banget sama kehidupan kita sehari-hari. Sebenernya, Suneo itu salah satu tokoh yang menurut gue dibikin semanusiawi mungkin. Jadi gue pernah baca di salah satu volume komiknya, Suneo minta alat yang bisa bikin dia bersahabat sama seseorang sama Doraemon. Dikasih deh tuh sama Doraemon, tanpa tahu sebenernya Doraemon-lah yang mau diperalat sama dia. Akhirnya jadilah si Suneo ini punya Doraemon, dan dijadikan alat untuk melakukan apapun yang dia mau. Suneo juga sering merasa iri sama Nobita. Menurut gue ini poin yang sangat manusiawi banget! Semua orang gak mau ada orang lain yang lebih hebat diatas mereka. Semua orang ingin hidupnya sempurna. Dan percaya ataupun tidak, kita itu hidup dalam pengotakan yang luar biasa, memisahkan yang ini dan itu tanpa ampun. Terkadang, kita gak bisa bergerak kalau kotak itu sudah terlalu sempit. Makanya kita mengambil space orang lain tanpa kita sadari. Sebenernya gak salah, karena itu termasuk survive. Tapi tetap saja kan?



Tadi adalah sedikit ulasan dan alasan, how and why. See you all!


Thursday, June 14, 2012

A Trip To Alanis

Dear Alanis,
Pernahkan kau membayangkan dunia tanpa ini itu?
Tanpa lini masa dan hiruk pikuk?
Tanpa kesenjangan dan keseragaman?
Tanpa embel-embel cinta maupun air mata?

Bisakah kau bayangkan itu?
Manusia adalah makhluk cacat, takut dengan apapun yang tak terlihat
Seperti Tuhan, hantu, cerita dan roman sekelebat
Tanpa pernah tahu ada monster abadi menyusup dalam diri mereka
Yang sering mereka sebut-sebut sebagai neraka

Dear Alanis,
Acuhkan saja mereka yang membawa parang
Bersiap untuk berperang
Ada kalanya mereka menyimpan berang
Persetan, dalam hidupku mereka hanya sebatas tanda silang

Dalam benak, mereka menyimpan tanya
Apakah semua ini terjadi atas kuasa-Nya?
Oleh sebab itu doa dan kesabaran mereka junjung setinggi-tingginya
Jika sudah lelah, baru mereka menangisinya

Dear Alanis,
Mereka bilang waktu dapat menyembuhkan luka segala rupa
Buatku, simpel saja, waktu itu serupa hutang
Yang bisa ditebus dengan akal sehat semata
Tanpa harus terlebih dahulu kau bentang biar senang

Dunia seperti ini, jelas bukan tempatku bernaung
Tapi aku tak ada kuasa untuk meraung
Karena rasa bosanku sudah menumpuk, berkarung-karung
Tak tersisa bagaikan bangkai burung

Tapi sudahlah, mari merapat dan cari tempat landai
Karena sebentar lagi kita sampai

Hey Alanis,
Tibalah aku di kediamanmu
Banyak cinta dan haru biru
Maukah kau bimbing aku?
Biar kita melebur jadi satu



V.M
Jakarta, selesai pukul 22:36 WIB
"di malam hari yang penuh intisari"