Wednesday, April 13, 2011

Stuck On The Puzzle

Nazar gue untuk vakum ternyata gagal total.

Gimana bisa gue vakum, sementara menjelang Ujian Nasional bukannya cenat-cenut kayak bocah lainnya gue malah rileks aja kayak mau ujian baca Al-Fatihah? Bete abis.

Untuk gue yang tidak berpendirian ini, kayaknya lagu dibawah cocok bener mengekspresikan apa yang terjadi sama diri gue belakangan :

I'm not the kind of fool
who's gonna sit and sing to you,
about stars, girl.
But last night I looked up into
the dark half of the blue,
and they'd gone backwards.

Something in your magnetism
must have pissed them off,
forcing them to get an early night.

I have been searching from
the bottom to the top,
for such a sight
as the one i caught when I saw your...

Fingers dimmed in the lights
like your used to being told that you're trouble
and I spent all night
stuck on the puzzle

Nobody I asked
knew how he came to be the one
to whom you surrendered

Any man who wasn't led away
into the other room
stood pretending

But something in your magnetism
hadn't just made him drop
whoever's hand it was that he was holding.

I have been searching
from the bottom to the top,
for such a sight
as the one I caught when I saw your...

Fingers dimmed in the lights,
like your used to being told that you're trouble,
and I spent all night,
stuck on the puzzle.

I tried to swim to the side,
but my feet got caught in the middle,
and I thought I'd seen the light,
but oh, no.
I was just stuck on the puzzle.
Stuck on the puzzle.

I thought this song was just describe my self in general. Alex Turner may not know me that well, but I obviously think like he was watching me from somehow in this earth.
Gue selalu merasa udah melakukan sesuatu dengan benar dari awal, tapi ketika semua itu gagal di tengah-tengah, gue diam dan tidak melakukan apa-apa. I was just stuck on the puzzle.
Gue selalu ingin dan berusaha merasa cukup dengan segala sesuatu yang gue punyain saat ini. Tapi, seperti manusia lainnya pada umumnya, gue enggak bisa. Gue selalu ngerasa apapun yang gue lakuin selama ini seakan belum cukup, seakan gue butuh lebih dan lebih lagi. Bukan secara materi aja, tapi soal naluriah. It feels like... I have nothing to fight, but I thought I was lose from the start.

Dan satu hal yang bener-bener tertera jelas disini, gue bukan orang yang romantis. Sama sekali. Mungkin sama dengan yang Alex gambarkan dengan gamblang di lagu ini, dia nggak suka menunjukkan apapun yang dia rasakan. Dia nggak suka bernyanyi tentang bintang, karena begitu dia melihat benda langit itu, dia sadar kalo keindahannya bersifat maya dan sementara. Dia nggak bodoh, hanya bersikap terlalu naif. Dia bukan Bruno Mars yang kata orang-orang lagunya romantis atau apalah, tapi coba liat analisis gue :

Just The Way You Are. Lagu ini menceritakan tentang ketulusan seorang cowok terhadap ceweknya, tapi nyadar gak sih, dari awal sampai akhir lagu cowok seksi satu ini cuma ngomongin fisik?

Grenade. Menurut gue banyak sekali part dari lagu ini yang agak janggal. Agak lucu nggak sih, kalo misalnya gue translate dari lagu aslinya dan jadinya gini :

Lo tau, gue bakal loncat dari kereta buat lo.
Lo tau, gue akan nangkepin granat. Buat lo nih.
... Tapi, itupun kalo lo kayak gitu juga ke gue. K thanks.

Marry You. Nah, ini lagu yang paling gue suka. Tapi setelah beberapa kali gue denger, ada kata-kata di lagu ini yang enggak gue mengerti. Inilah kata-kata itu :

If we wake up and you wanna break up that's cool
No I won't blame you
It was fun, girl

Ditolak dan diputusin kok fun? Don't you ever feel strange about this? Gue curiga nih cowok satu pengen ngawinin cewek karena MBA.

No hurt feelings there. :)
Gue ngefans juga kok sama Bruno Mars, bahkan gue sempet meringis sedemikian rupa pas gue nggak dapet tiket buat konsernya. Niat hati pengen jihad dan nyari di calo, eh kurang duit. Yasutralah, biar uangnya kusimpan untuk Arctic Monkeys! *teuteup*

Sampai disini perjumpaan kita, kapan-kapan kusambung lagi.


Friday, April 8, 2011

Seperti Menabung Untuk Beli Celengan

Dari judulnya aja, udah keliatan kalo kali ini gue pengen curhat parah. Agak aneh tapi nyata gak sih, kalo misalnya lo ngumpulin uang jajan lo, hasil jerih payah lo, untuk membeli sesuatu yang nantinya akan digunakan untuk menyimpan uang itu sendiri? Ya, itulah yang namanya kesia-siaan yang menyenangkan.

Sama seperti yang gue alamin beberapa waktu belakangan ini. Gue ngerasa bodoh meluangkan sebagian besar waktu gue untuk kesenangan yang bersifat sementara. Padahal, Ujian Nasional udah di depan mata. Dan melihat kondisi gue yang melas ini, guru-guru di sekolah bukannya menyemangati atau minimal bikin rileks sedikit kek, malah nambah beban yang buat gue ngerasa bodoh.

So, apa persiapan gue menghadapi UN? Gak ada. Gue, berusaha bersikap sewajarnya kayak orang yang mau ujian EHB. Belajar tiap hari (Namun tidak sungguh-sungguh seperti yang tertuang dalam Janji Siswa. Ya, gue memang licik.) ternyata belum cukup. Ada beberapa materi yang memang tidak gue pahami secara mendalam. Terutama dalam mata pelajaran Sains dan kawan-kawan.

Sekali lagi, gue merasa bodoh.

Maka dari itu, gue meluangkan akhir pekan ini untuk bersenang-senang tanpa beban. Menyingkirkan segala kepenatan gue, dari apapun juga. Lalu minggu berikutnya, gue harap gue bisa belajar dengan tenang... seperti yang selalu gue harapkan dari hari ke hari.

Dan terima kasih untuk para teman yang sudi meluangkan waktu berharganya untuk dihambur-hamburkan bersama orang bodoh seperti saya.
Hunting boneka, nemenin beli komik seabrek-abrek (Dimana komik itu sendiri sudah overlimit.) ngajakin jalan, nraktirin makan. Semua itu sungguh, sungguh berarti. That's what friends are for.

Oh ya! Dan ada kejadian cukup konyol. Sebagai hiburan di hari Jum'at, gue bersama tiga orang lainnya memutuskan untuk mencari hiburan dengan nonton film horkep (horror-bokep) Indonesia. Di bioskop, teman gue yang berinisial J ngakak dengan biadab sampe gue ngerasa banget kalo penonton udah agak risih dengan kehadirannya. Si tersangka, dengan cuek dan angkuh, menaikkan kakinya dan memasang tampang 'siapa-loe-siapa-gue'-nya. Memang bajingan sekali kamu, J.
Temen gue yang berinisal A hanya diam. Kebetulan, dalam formasi barisan bangku, dia dapet tempat yang gelap dan tidak cukup nyaman sebenarnya. Akhirnya dengan sigap, A dan P bertukar tempat duduk seraya bercengkrama dengan asik tentang betapa noraknya efek filem yang udah kayak Legenda Hantu Beha versi Indosiar ini. Gue, sebagai orang yang keren dan beradab, hanya dapat menyaksikan filem itu dengan tertawa sinis melihat adegan-adegan tolol. Misalnya, hantu yang sok seksi padahal bodinya kayak trenggiling, adegan paranormal diangkat menuju pohon (Gue berani taruhan ceban kalo dia masang tali di ketek terus disangkutin di pohon. Klise.)
Saat sedang asik haha-hihi, seorang Bapak datang menuju tempat kami. P yang duduk berdampingan dengannya tidak mempunyai firasat aneh tentang gelagat pria ini. Dia tetap stay cool sambil nonton adegan agak 'rrawr' di filem tersebut. Nah, sampailah filem tersebut pada bagian dimana seorang cewek lagi di kasur dan mau nelfon seorang cowok. Dengan desahan buatan (Yang menurut gue lebih kedengaran seperti orang yang mau melahirkan gajah daripada membuat lelaki nafsu) itu dia membuat pria disamping P ini agak... sakit. Dia mencoba meraba P dengan hati-hati. P masih tidak menyadarinya, karena sedang asik. Ketika si P ini bergerak, otomatis tangan pria yang ingin menyentuhnya dengan hati-hati itu tersenggol. P langsung menunjukkan gelagat horror.
"Eh... Pindah tempat duduk, yuk..."
"Hah? Apaan?" tanya A. Dia budeg.
Tak lama berselang, pria mesum bodoh pedofil kampret bajingan lumping tersebut bangun dan keluar dari bioskop. P menangis. Entah dia terharu, bahagia, lega... atau takut? Ah, dia shock ternyata. Pria itu hampir menggangurkannya!!! (Anggur = grape. Ya bisalah ngelesnya :p)

Jadi, pesan gue, berhati-hatilah dalam berbuat. Jangan sampai kita menyia-nyiakan hidup hanya untuk kesenangan sesaat. Solusi gue, belikan gue action figure Death Note chibi. Gue nggak tau itu dapat menambah gairah hidup lo atau enggak. Yang jelas gue akan bahagia sekali.

Sekian dari saya, tolong doakan agar saya sukses mencapai cita-cita gemilang. Dan, oh, tolong, Mbak Melinda Dee... Tolong jangan bikin Kakak Jupe merana akan... (Isi sendiri, ya.)