Tuesday, March 29, 2011

Winter Sonata

OK. I’m fine. Beberapa waktu yang lalu, gue emang vakum karena : 1) Males nulis. 2) Gak tau apa yang pengen ditulis.

Tapi sekarang, mumpung gue lagi mood banget, yasudah lah. Jadi apa yang mau gue tulis?

Yak, tentang cerita Gadis Salju Berbaju Perak. Gue tau, dari judulnya mungkin ini terdengar seperti filem-filem Indosiar atau sebangsanya. Tapi nggak gitu, kok. Terus ada satu cerita lagi tentang bunga Edelweiss. Iya, gue juga nggak kenal bunganya kayak gimana. Eniwei, dua cerita legenda ini, gue ceritain pake bahasa gue sendiri. Jadi manakala ada kata-kata yang terbaca seperti lirik lagu dangdut atau cerita-cerita dewasa, jangan salahkan bunda mengandung. Dan… gue sejujurnya gak peduli ini legenda beneran apa boongan, yang jelas sih cukup touchy. Saran gue, baca baik-baik deh cerita ini, sambil dengerin lagu You Belong To Me-nya Lifehouse. Dan jangan lupa, baca Bismillah dan cuci tangan terlebih dahulu. (apasih kampret!)

*****

Snow Silver Storm

Pada zaman dahulu kala, ada seorang pria yang menembus badai sehabis bertani. Seperti para petani pada umumnya, dia membawa keranjang berukuran cukup besar di punggungnya. Ditengah perjalanan pulang, ia melihat seorang gadis berjalan terseok-seok kemudian jatuh, tidak berdaya. Gadis itu memakai pakaian berwarna perak, dan kulitnya seputih salju. Melihat pria itu, gadis tersebut tersenyum seraya berkata :

“Maukah kau mengantarku sampai rumah? Aku tidak bisa berjalan selangkah pun. Tolonglah.” katanya gadis itu dengan wajah memelas.

Pria yang baik hati ini menyanggupi, ia membawa gadis itu dengan perantara keranjang bertani-nya. Ia memopoh gadis tersebut, masuk ke dalam hutan. Makin lama, badai di hutan tersebut semakin besar. Setiap kali pria itu bertanya jalan menuju ke rumahnya, sang gadis hanya mengangguk tanpa suara. Ya, memang itulah tujuan terselubung gadis berbaju perak yang tidak diketahui pemuda tersebut. Ia gemar menghisap roh pria-pria malang yang terjebak dengan kepura-puraannya, dengan cara membuat mereka terjatuh kelelahan terlebih dahulu.

Mereka semakin jauh di dalam hutan. Tidak ada tanda-tanda adanya pemukiman penduduk di sekitar sana. Gadis itu sudah bersiap-siap, ingin menerkam pria tersebut.

“Nona…” panggil pria tersebut.

Gadis itu tersenyum senang. Ia berpikir bahwa pria tersebut sudah lelah dan tidak dapat berjalan lagi. (Sumpah, kalo gue jadi si cowok, gue panggil kawan gue si Monki)

Ternyata dugaannya salah. Pria tersebut malah menatapnya sejurus kemudian sambil bertanya: “Apa kau kedinginan?”

Gadis itu terdiam di tempat. Ia tidak pernah mengira kalau pria tersebut ternyata memikirkan keselamatan dirinya, sementara ia sendiri malah siap membunuhnya.

“Apa kau lapar? Keranjangnya cukup sempit, ya? Tenanglah, sebentar lagi kita pasti akan sampai!” pria itu tetap meracau sambil menenangkan gadis tersebut. Gadis berbaju perak itu sangat tersentuh sampai-sampai ia meneteskan air matanya... untuk pertama kali.

Ketika berjalan cukup jauh, pria itu berhenti untuk sejenak bertanya pada gadis itu lebih lanjut.

“Nona…” panggil pria itu. Namun tidak ada jawaban. Ia berjalan lagi. Pikirnya, gadis itu sedang tertidur atau tidak enak diajak bicara.

Namun perlahan, beban di punggungnya semakin ringan. Ia menengok ke arah keranjangnya, dan menemukan seonggok pakaian perak bersama tumpukan salju. Gadis itu telah raib, cinta hangat dari pria itu telah melelehkan hatinya yang dingin.

*****

Edelweiss

Masih pada zaman dahulu kala, seorang pendaki di gunung jatuh cinta pada seorang Ratu Salju. Seperti yang kita ketahui, di filem Siti Nurbaya, atau sinetron-sinetron kacangan jaman sekarang, yang namanya menjalin cinta dengan orang berbeda kasta itu makruh hukumnya.

Tetapi, mereka berhasil mempertahankan hubungan dengan baik. Hari demi hari, segalanya terasa normal. Ya, normal. Hingga hubungan diam-diam tersebut diketahui para peri salju.

Peri salju iri dengan hubungan pendaki dan ratu mereka yang harmonis. Mereka menghalalkan segala cara agar hubungan tersebut renggang, dan mereka mengharapkan perpisahan selamanya. Sejak saat itu, pendaki itu selalu dihalang-halangi saat ingin bertemu dengan sang ratu. Dan pasti kalian tahu, jaman dulu belom ada yang namanya SMS atau BBM. Si ratu, gak mungkinlah SMS-an sama si pendaki kayak begini :

"Ayyank,, kmUh dmn C... Mizz U Beibh,,"

Oh iya, gue lupa. Jaman dulu belum ada alay. Intinya, hilanglah kontak antara pendaki dan Ratu Salju itu.

Ratu tersebut tetap menunggu pendaki agar bertemu dengannya. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun. Bang Toyib... Err, maap. Maksud gue si pendaki, telah menikah dengan gadis idamannya yang lain di desa. Mengetahui hal ini, ratu salju sedih. Merasa terkhianati, tersakiti, akan penantian yang sungguh sia-sia.

Akhirnya, dengan hati yang hancur, tubuhnya pecah menjadi bulir-bulir bunga putih kecil bersih bernama "Edelweiss". Ia lalu terbawa angin, menuju ke bawah pegunungan, hidup dengan kepingan-kepingan yang masih tersisa.

*****

Wetsah, mantap. Gue selalu suka cerita kayak gini. Bukan masalah dayu atau enggaknya. Tapi nilai moral nya itu, nothing is impossible. Dan itu bener banget. Kecuali buat orang yang merasa itu terlalu berat untuk dipahami. :p