Friday, March 14, 2014

"Takut"

Saya adalah orang yang lebih nyaman berada di tengah kawanan hewan dibanding manusia. Alasannya simpel, binatang adalah makhluk yang sangat praktis. Saya tidak harus mendengar keluh kesah mereka 24/7, betapa beratnya hidup yang sedang mereka jalani, betapa banyaknya pekerjaan dan ulangan yang harus mereka selesaikan, dan betapa rumitnya kisah percintaan mereka. Mereka bukan manusia yang harus melewati tahap-tahap emosional dari kanak-kanak hingga dewasa. Dan mereka tidak perlu melewati fase alay. Mereka adalah contoh konkrit betapa indahnya hidup dengan maximal simplicity. Tidak harus bersusah payah dan berkeluh kesah yang tidak ada ujungnya. Kerjaannya hanya makan, main, tidur, dan kawin. Sudah dijamin 100% masuk surga.

Tapi dulu, jika ada satu makhluk yang berada di list terakhir dari semua binatang yang saya senangi, maka makhluk itu adalah kucing. Awalnya kesal karena pernah dicakar secara brutal waktu kecil, lalu kemudian rasa takut itu berkembang dan berubah menjadi curiga. Saya secara otomatis mensugesti diri saya sendiri bahwa semua kucing di dunia ini membenci saya, dan mereka bersekongkol untuk melucuti saya tiap ada kesempatan. Kerap kali, jika saya berada dalam radius beberapa meter dari kawanan kucing, saya harus memasang kuda-kuda siap siaga karena selalu diliputi perasaan tidak enak, seperti ada yang sedang memperhatikan dan siap menyerang. Okay, saya tahu mungkin pernyataan ini terdengar berlebihan. Tidak logis rasanya jika kucing-kucing tadi berkonspirasi sedemikian rupa untuk menyerang seorang manusia yang bahkan mandi pun jarang. Ah, tapi bukan itu masalahnya.

Kemarin, rumah saya kedatangan tamu yang notabene teman-teman sekolah saya sendiri. Seorang teman, sebut saja Ambia, adalah seorang fobia kucing kelas berat. Ia berulang kali mengingatkan bahwa kediaman saya sekarang sudah tidak aman lagi, ditandai dengan maraknya kucing yang santer berkeliaran. Sekedar informasi, dulu ketika ia dan teman-teman saya yang lain masih sering datang untuk acara nonton bola bareng di rumah, saya belum memelihara kucing. Kira-kira setahun yang lalu. Jadi bisa terbayang lah, bagaimana hebohnya ketika ia mendapati kucing saya sedang makan di kandang. Ia memohon-mohon supaya kami tidak mengeluarkan makhluk fluffy itu dari kandangnya. Awalnya, kami menurut. Namun kemudian, rasanya gemas dan penasaran juga. Jadi ketika dia sedang 'ngumpet' di balik pintu kamar adik saya, saya bersama seorang teman jahiliyah bernama Isa berkonspirasi untuk menjejeli kucing sekaligus merekam adegan tersebut. It went better than we expected. Dia berteriak histeris, padahal kucing saya diam saja. Memperhatikan segala gerak-gerik hebohnya sementara ia menempel pada dinding seakan mau diperkosa. Bahkan sampai mengumpat dan membawa nama Tuhan dengan lantang, bahwa kami ini keparat. Bahwa manusia itu jahanam. Bahwa Tuhan itu maha adil dan suatu saat kami akan mendapat balasan yang setimpal. Saya hanya tertawa karena bagaimanapun adegan itu lucunya bukan kepalang. Sehabis itu ia bengong tidak karuan, dan menjadi kagetan. Bahkan Mbak saya yang sedang membawa minuman-pun disangka sebagai kucing yang sedang menyamar. Ia menjadi frigid terhadap semua hal. Hebat bukan buatan kekuatan fobia dalam diri seseorang.

Ada juga yang takut dengan buah-buahan, namanya Vabbya. Buat saya ini aneh sekali. Kecuali kalau Annoying Orange memang ada di kehidupan nyata, baru okelah. Teman saya Piping juga fobia berat dengan kodok, sampai-sampai ia bisa menjerit dan menangis tidak karuan kalau dijejali (dan untungnya, saya tidak pernah bertindak sejauh itu). Ada yang super takut dengan serangga, lipas dan keluarganya, yaitu Mbak Lin, sampai-sampai ia pernah hampir membuka semua pakaian yang dia kenakan karena binatang tersebut disinyalir menempel di bagian tubuhnya. Ada juga yang takut dengan kulit rambutan, namanya Sigit. Dan adik saya sendiri bahkan punya ketakutan berlebih terhadap hantu dan makhluk astral lainnya. Selain nama-nama diatas, tentu kita mengenal banyak figur yang mempunyai fobia dari yang paling normal sampai yang paling nyentrik seperti 'fobia cinta'. Huek. Mendengarnya saja saya sudah mau muntah.

Saya? Saya gak pernah punya fobia dengan apapun. I found it unnecessary either to fear something. You cannot trust your fear. It can get you nowhere. Saya lebih percaya bahwa ketakutan milik kita, adalah sugesti maha gabut yang kita punyai dalam alam bawah sadar. Ketakutan itu refleks bersatu dengan kepanikan tidak wajar yang kita punya, sehingga akhirnya kita tidak dapat mengontrol diri kita sendiri dan mengacaukan rasionalitas otak. Sehingga kita bisa menjadi tidak karuan, and driven out by our own fear. Fear is something you held deep inside you. It's up to you, how to control it, how to minimize it. Tanamkan saja pikiran bahwa 'orang lain aja biasa, kenapa saya gak bisa?'. Well, apa sih yang pantas ditakuti dari rasa takut itu sendiri?

Manusia selalu dilimpungi rasa takut berlebihan yang mereka ciptakan sendiri. Untuk kalian yang masih 'takut', saya punya quote yang pas :

Cheryl: I wanted to tell you, that song "Major Tom" and that beard guy... he doesn't know what he's talking about. That song is about courage and going into the unknown. It's a cool song.

Sekedar referensi, lagu yang dimaksud adalah Space Oddity-nya David Bowie. 

Happy weekend.


Monday, February 17, 2014

About Indonesia's PMB Program & Several Things Related To That

I have officially cancelled my application for Keio, due to application deadline schedule. Mungkin belom berjodoh or whatsoever. Dan gw merelakan sambil nunggu screening process uni lain (APU in March and KAIST in June).

So, some of you might've heard about my plan to study in Japan this year. It's been difficult for me to organize every single thing alone. I still have not yet granted any permissions from my mother, it's been so hard to start a conversation because we'll end up screaming at each other and hold our ego. But hey, it doesn't matter because I have this strong motivation to step aside and leave. It's not that I don't love her nor I dislike this country, I just feel that, it might be better for me to move to a new place and new environment. I mean, gw mau aja gitu sekolah disini asal bukan sekolah yang terlalu akademis karena gw sudah muak. Gw udah muak karena sekolah-sekolah kayak gitu samasekali gak kredibel dan super gak ngotak. Jujur aja gw nggak ngerti sama standar/kriteria penerimaan mahasiswa baru di Indonesia. Setiap kali gw mau apply keluar (di negara dan universitas manapun) selalu ada yang namanya ADMISSION HANDBOOK. Disana tertulis lengkap semua requirements yang mensyaratkan kita buat mengirim beberapa dokumen, dimana nanti mereka bisa menilai kita secara keseluruhan dari dokumen yang kita kirim.

Dokumen-dokumen itu biasanya berisi formulir identitas, letter of recommendation/evaluation, nilai rapor, personal statement/essay, piagam dan penghargaan, sama activities outline. Menurut gw, ini adalah hal yang sangat bagus karena mereka gak bakal nilai kita cuma dari academic transcript yang notabene masih tanda tanya dan kurang bisa dipertanggung jawabkan karena Indonesia gak punya standar pendidikan yang jelas dalam menentukan nilai. 

Coba lihat, nilai 80 di suatu sekolah bisa menjadi 90 di sekolah yang lain hanya karena 'akreditas' sekolah yang mumpuni. Itu juga standar pengajaran dan cara memperoleh nilainya masih sangat dipertanyakan. Kita gak punya standar khusus yang bisa dipakai sehingga kompetensi setiap orang bisa dinilai secara adil dan setara. Disini, lo bisa aja ngemis-ngemis nilai atau nyontek buat dapet angka yang lo mau. Ada juga beberapa guru yang secara 'dermawan' memberi nilai lebih buat anak didik yang dirasanya baik. Efeknya tentu semua lo tau. Seakan belum cukup aneh, proses penerimaan mahasiswa baru regulerpun disaring hanya lewat rapor. Murid gak perlu menulis motivasi mereka ke depan, atau mimpi-mimpi mereka, atau aktivitas-aktivitas yang mereka jalanin selama mereka sekolah, atau prestasi mereka di bidang lain seperti halnya kalau lo mendaftar ke luar negeri, mereka cuma perlu angka-angka yang perlu lo kumpulkan selama tiga tahun bersekolah, and BAM! kalo lo dinyatakan lulus kualifikasi, lo bisa membanting mimpi orang lain yang 'kurang beruntung'.

Personal statement/essay, gw rasa sangat penting untuk mengukur seberapa kuatnya motivasi elo dalam memilih major or jurusan yang lo pengen masukin. Disitu elo bisa menjabarkan mimpi-mimpi elo, dari yang paling masuk akal sampe yang gak pernah kebayang dipikiran, serta misi lo dalam mencapai tujuan tersebut. Dan concern lo tentang hal yang related to your chosen major. Ini bagus banget, menurut gw ini salah satu hal yang bisa menggambarkan diri elo sepenuhnya. Tapi gw cukup ngerti kenapa sistem ini gak diterapin di Indonesia, karena pasti essay ini bakal banyak polemik yang muncul di dalamnya. (Skripsi aja BELI, JIPLAK, minta bikinin orang, apalagi essay yang cuma 400-600 kata?) Dasar mental tolol dan gak-mau-susah.

Activities outline. Sebetulnya ini optional sih buat beberapa universitas. Tapi bakal tetap selalu ada. Disini elo bisa menjabarkan dan memamerkan kegiatan di luar sekolah, kayak volunteer, kepanitiaan event, ekskul, kegiatan sosial, nulis, filmmaking, apa aja deh yang menarik minat lo dan udah lo jalanin. Ada beberapa orang yang emang gak senang/gak sempat terlibat dalam kegiatan-kegiatan kayak gini (poor you! harusnya lo temenan sama gw) karena jam belajar atau karena gak tau cara gabung dan nyarinya. Ya gpp sih, cuma menurut gw sayang-sayang aja 3 taon hidup lo isinya cuma belajar dan gak sempet nyicipin dunia seneng-seneng. Kebetulan gw sekolah di sekolah yang sangat strict soal belajar dan akademis apalagi gw IPA dan guru-gurunya pushy semua, jadi gw mengorbankan cukup mengorbankan waktu belajar gw buat dapet pengalaman yang rasanya gak bakal bisa gw dapetin kalo gw lulus (karena rasanya pasti beda), dan gw gak pernah sekalipun menyesal walaupun pas kelas 2 nilai gw turun bebas. Sumpah, demi semua dewa dewi di langit dan semua Tuhan di dunia ini, gw nggak bakal nyesel sedikitpun, sampai detik ini dan selamanya. I am grateful to taste 'dunia kerja' lewat magang dan ketemu orang-orang baru.

Jadi bisa keliatan kan lewat semua requirements tersebut, kekurangan dan kelebihan lo serta bidang yang menarik perhatian lo? Itulah yang gw maksud dengan standar penilaian yang baik. Menyeluruh. Rata. Kompetitif. Sesuai motivasi. Sesuai pilihan. Sesuai. Sesuai. Sesuai. Nilai yang superior emang bagus banget, tapi jangan sampe nilai itu dijadikan the only living standard to get into the university karena itu bisa ngebuat orang menghalalkan segalanya dan sikut-sikutan dengan cara yang merugikan orang lain men.

PS: Jujur aja gw juga masih ada secuil keinginan buat tetep disini dan gw tertarik buat masuk perfilman. Tapi, kalo boleh ditanya kenapa gw keukeuh banget buat sekolah di luar, mungkin ini bisa menjadi jawaban paling pas :



Saturday, October 5, 2013

Epic Java: Maha Epic, Maha Pecah!


Screening Epic Java
Sebagai abege penggila film kebanyakan, screening film dikala weekend benar-benar sesuatu yang membuat gw senang. Gw adalah tipe-tipe orang yang lebih senang menonton film independent, festival, dan film-film dengan genre 'nyeleneh' dan gaya penyutradaraan yang tidak umum. Alasannya simpel, gw cukup fed up dengan film-film Hollywood yang bertebaran di PirateBay, dan gw suka dengan konsep-konsep out of box yang dihadirkan oleh para sineasnya. Jadilah waktu luang tsb gw pakai untuk mengunjungi Reading Room, Salihara, Europe On Screen, dan berbagai tempat pemutaran film/galeri seni lainnya.

Suatu hari, teman gw, Cesa, mengajak gw untuk menghadiri screening film Epic Java. Bersama teman gw yang lain, Dea dan Anggit. Namun belakangan Anggit berhalangan hadir karena sesuatu yang mendesak. Sejujurnya, gak banyak yang gw tahu perihal film Epic Java ini. Cesa hanya memberikan gambaran singkat, dan yang gw tangkap adalah, film ini adalah film bertemakan travelling karena dia sempat menyinggung tentang web series Jalan Jalan Men, yang sering gw tonton juga. Satu lagi, alasan pendukung terkuat kenapa dia kepingin banget nonton adalah karena MC-nya Petra 'Jebraw'. Kalau kalian adalah internet freak, pasti tahu lah siapa Jebraw ini. Doi adalah makhluk hidup maha asyik, didampingi oleh pacarnya, Naya Anindita, dari first impression yang gw dapat sih super friendly dan easy going. Singkatnya, kita semua pengen ketemu dan ngobrol-ngobrol singkat sama mereka.

Screening diadakan di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, jam 20:00 WIB. Tapi gw agak telat karena pusing cari parkir, dan akhirnya gw baru bisa ketemuan dengan Dea dan Cesa beberapa menit setelah gate dibuka. Pas ketemu dan dikasih tiketnya, gw senang banget. Karena bentuk tiketnya cukup artistik untuk sebuah acara screening.


Lalu, setelah ambil snack yang dikasih gratis dari panitia, kita pun masuk. Disana penonton sudah mulai memadati kursi. Sebetulnya, acara screening ini seat nya limited alias terbatas. Siapa cepat, siapa dapat. Maka dari itu tiket Anggit yang kepalang nganggur langsung laku dibeli orang. Yang gw tau juga sih, kuota penonton ditambah karena banyaknya permintaan. Ekspektasi gw melambung tinggi karena minat audiens yang tinggi.

Proses Pembuatan & Film Influence
Setelah trailer Anna Ballerina (film besutan Kak Naya) diputar, langsung diputar perjalanan crew film Epic Java ini yang menurut gw cukup menarik. Proses pembuatannya memakan waktu setahun, dengan biaya yang sangat minim dan urusan teknis yang bisa dibilang sangat sederhana. Untuk scoring musik, mereka menggunakan laptop dan MIDI. Selain itu, mereka juga masih menggunakan slidertrack manual, bukan motorized slidertrack. Sang sutradara yang juga merangkap sebagai cameraman, Febian, juga mengakui kalau mereka harus menggeser slidertrack tsb dengan skala ukuran yang sama setiap enam detik sekali untuk menciptakan gambar timelapse yang halus. Ah, the things you do for the things you like. Sekedar info, kamera yang digunakan juga bukan kamera sekaliber Black Magic atau bahkan Red, mereka menggunakan kamera DSLR Canon 5D. Dari behind the scene itulah gw tau, kalau konten film ini berpusat pada gambar-gambar time lapse dan stop motion. Mereka juga mengaku mendapat inspirasi yang besar dari Samsara. Sebelumnya, Samsara bukanlah nama yang asing, dalam bahasa Buddha nama tersebut berarti: repeated reincarnation. Dan buat kalian yang belum tahu, film itu menceritakan tentang kehidupan dari lahir, hidup, mati, kemudian dilahirkan kembali, dan genre-nya non naratif alias tanpa dialog sedikitpun. Hanya berupa kumpulan time lapse, stop motion video, and some epic pictures yang dikumpulkan selama lima tahun, mencakup dua puluh lima negara. Sedangkan Epic Java sendiri melibatkan 40 tempat  berbeda di Pulau Jawa dalam kurun waktu setahun. Samsara dibuat dengan budget yang fantastis, lalu bagaimanakah dengan nasib Epic Java yang jauh lebih 'sederhana' dibandingkan film tersebut?

Epic Java, Sebuah Perjalanan
Epic Java, adalah sebuah film yang menceritakan tentang terbentuknya Pulau Jawa. Di awal, mata kita akan dimanjakan dengan tulisan-tulisan puitis tentang Dewa, Dewi, dan sebagainya. Jujur aja, gw enjoy banget bacanya. Karena walaupun film ini non naratif, rasanya dengan sisipan tulisan, penonton akan lebih 'ngeh' kemana film ini akan dibawa. Kemudian muncullah, kumpulan video letupan-letupan dan kabut dari gunung, scoring music pun masuk dan menambah tense di film tersebut. Tiap segmen dari film ini berarti proses, tense yang dibangun lewat scoring musik yang sangat megah dan enak dikuping serta nyambung sama segmen, membuat batin gw seperti dimanjakan oleh alam. Ada suatu segmen yang menarik, dimana saat mereka sedang merekam sebuah (tebing, idk?) ada seekor burung hitam yang melintas, kemudian binatang itupun pergi dan untuk beberapa saat kemudian, tidak muncul di frame. Saya sempat bingung, apa yang mau ditampilkan sutradara dengan tidak men-cut bagian ini? Namun tiba-tiba saya terhenyak, karena burung tersebut kembali lagi, namun kali ini ia tidak sendirian: seekor burung berwarna putih datang bersamanya. Kemudian muncullah sekelompok burung yang bermigrasi dan membentuk suatu formasi unik, berterbangan di semua bagian tebing tersebut. Ini betul-betul coincidence yang indah kalau menurut saya. You can rarely get a nice footage like this, especially in such unexpected places in nature.

Pulangnya, kami diberi goodie bag yang berisi t-shirt, beberapa sticker, kartu nama, teh kotak (dari sponsor) dan sebuah postcard unik. Kita juga sukses kenalan dan ngobrol dengan Naya & Jebraw!

Conclusion is: saya suka sekali dengan film ini. Kemarin ketika screening diadakan ada seorang pakar film documentary yang bilang, kalau dia menyayangkan kenapa film ini tidak menggunakan kamera yang setingkat diatasnya, karena nanti per frame bisa dikomersilkan alias dijual dengan harga tinggi, dan juga bisa bermanfaat untuk proses film selanjutnya. Yang paling saya suka, adalah komposisi gambar dan scoring music-nya. Scoring musicnya pecah banget! Betul-betul bisa membangun suasana. Ada ala-ala Hans Zimmer-nya disitu, dan yang pasti, keterbatasan teknis tidak menghalangi niat mereka untuk menyuguhkan pulau jawa selama kurang lebih 30 menit.






Friday, August 30, 2013

[TUTORIAL] Not-So-Ordinary Social Media Button For Fun

Jadi kali ini mau bagi-bagi tutorial untuk nambahin widget social media yang nge-hip. Sebenarnya udah banyak yang bikin tutos ini, cuma pengen aja karena kebanyakan yang di share orang kek plain dan gak seru gitu. Ini adalah beberapa social media button terbaik versi gw, you can find it in a whole internet for sure. Just simply follow these steps and configure it on your own.

SOCIAL MEDIA BUTTON LIKE MINE
(coba lihat di bagian bawah tiap postingan gw, habis author box)

1.  Login ke Blogger
2. Template, klik Edit HTML
3. CTRL + F buat cari ]]> </ b: skin> terus copy code ini buat ditaruh diatasnya

ul.social_Socmed {
list-style:none;
display:inline-block;
margin:15px auto;
}
ul.social_Socmed li {
display:inline;
float:left;
background-repeat:no-repeat;
}
ul.social_Socmed li a {
display:block;
width:50px;
height:50px;
padding-right:10px;
position:relative;
text-decoration:none;
}
ul.social_Socmed li a strong {
font-weight:400;
position:absolute;
left:20px;
top:-1px;
color:#fff;
z-index:9999;
text-shadow:1px 1px 0 rgba(0,0,0,0.75);
background-color:rgba(0,0,0,0.7);
-moz-border-radius:3px;
-moz-box-shadow:0 0 5px rgba(0,0,0,0.5);
-webkit-border-radius:3px;
-webkit-box-shadow:0 0 5px rgba(0,0,0,0.5);
border-radius:3px;
box-shadow:0 0 5px rgba(0,0,0,0.5);
padding:3px;
}
ul.social_Socmed li.abfacebook {
background-image:url(http://4.bp.blogspot.com/-nJMUyZUi2SM/UaXEnGYtwWI/AAAAAAAAAkM/SXrQ4Q8ASoA/s1600/Socmed-facebook-icon.png);
}
ul.social_Socmed li.abtwitter {
background-image:url(http://4.bp.blogspot.com/-_18_qzg7sHs/UaXEnVKS3aI/AAAAAAAAAkY/UYLCvEQuOEI/s1600/Socmed-twitter-icon.png);
}
ul.social_Socmed li.abgoogleplus {
background-image:url(http://2.bp.blogspot.com/-DpI_6iUH6GY/UaXEnB83lFI/AAAAAAAAAkQ/Q6QtGamgL_E/s1600/Socmed-google-icon.png);
}
ul li.abpinterest {
background-image: url(http://2.bp.blogspot.com/-tMeDXWRp5VY/UaXEmVQIGDI/AAAAAAAAAj0/FrLLKtGE8j0/s1600/Socmed-Pinterest-icon.png);
}
ul.social_Socmed li.abstumbleupon {
background-image:url(http://1.bp.blogspot.com/-NxzIC4d0ixE/UaXEmytFBoI/AAAAAAAAAkI/jmk72VMrnvA/s1600/Socmed-StumbleUpon-icon.png);
}
ul.social_Socmed li.abdig {background-image:url(http://4.bp.blogspot.com/-J2vYlohj8qw/UaXEmX-JDMI/AAAAAAAAAj8/QwSrbs1Md8w/s1600/Socmed-Digg-icon.png);
}
ul.social_Socmed li.ablinkedin {
background-image:url(http://2.bp.blogspot.com/-HaUpL3wjx3I/UaXEmf3UVSI/AAAAAAAAAj4/cHVj0FALvgk/s1600/Socmed-Linkedin-icon.png);
}
#animation_Socmed:hover li {
opacity:0.2;
}
#animation_Socmed li {
-webkit-transition-property:opacity;
-webkit-transition-duration:500ms;
-moz-transition-property:opacity;
-moz-transition-duration:500ms;
}
#animation_Socmed li a strong {
opacity:0;
-webkit-transition-property:opacity, top;
-webkit-transition-duration:300ms;
-moz-transition-property:opacity, top;
-moz-transition-duration:300ms;
}
#animation_Socmed li:hover {
opacity:1;
}
#animation_Socmed li:hover a strong {
opacity:1;
top:-10px;
}

4. Kalo udah, CTRL + F <data:post.body/> dan taruh kode ini sebelum kode <data:post.body/>

<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;item&quot;'>
<div style='font-size: 22px;'><b>Share this article with your friends.</b></div>
    <ul class='social_Socmed' id='animation_Socmed'>
    <li class='abfacebook'>
    <a expr:href='&quot;http://www.facebook.com/share.php?v=4&amp;src=bm&amp;u=&quot; + data:post.url + &quot;&amp;t=&quot; + data:post.title ' onclick='window.open(this.href,&apos;sharer&apos;,&apos;toolbar=0,status=0,width=626,height=436&apos;); return false;' rel='nofollow'><strong>Facebook</strong></a>
    </li>
    <li class='abtwitter'>
    <a expr:href='&quot;http://twitter.com/home?status=&quot; + data:post.title + &quot; -- &quot; + data:post.url ' rel='nofollow' target='_blank'><strong>Twitter</strong></a>
    </li>
    <li class='abgoogleplus'>
<a expr:href='&quot;https://plusone.google.com/_/+1/confirm?hl=en&amp;url=&quot; + data:post.url' onclick='window.open(this.href,&apos;sharer&apos;,&apos;toolbar=0,status=0,width=626,height=436&apos;); return false;' rel='nofollow' target='_blank'><strong>Google+</strong></a>
    </li>
    <li class='abpinterest'>
<a href='javascript:void((function()%7Bvar%20e=document.createElement(&apos;script&apos;);e.setAttribute(&apos;type&apos;,&apos;text/javascript&apos;);e.setAttribute(&apos;charset&apos;,&apos;UTF-8&apos;);e.setAttribute(&apos;src&apos;,&apos;http://assets.pinterest.com/js/pinmarklet.js?r=&apos;+Math.random()*99999999);document.body.appendChild(e)%7D)());' rel='nofollow' target='_blank'><strong>Pinterest</strong></a>
    </li>
    <li class='abstumbleupon'>
    <a expr:href='&quot;http://www.stumbleupon.com/submit?url=&quot; + data:post.url + &quot;&amp;title=&quot; + data:post.title ' rel='nofollow' target='_blank'><strong>StumbleUpon</strong></a>
    </li>
    <li class='abdig'>
      <a expr:href='&quot;http://digg.com/submit?url=&quot; + data:post.url + &quot;&amp;title=&quot; + data:post.title' rel='nofollow' target='_blank'><strong>Dig</strong></a>
    </li>
    <li class='ablinkedin'>
    <a expr:href='&quot;http://www.linkedin.com/shareArticle?mini=true&amp;url=&quot; + data:post.url + &quot;&amp;title=&quot; + data:post.title + &quot;&amp;summary=&amp;source=&quot;' rel='nofollow' target='_blank'><strong>LinkedIn</strong></a>
    </li>
    </ul>
</b:if>


FINISH. SAVE TEMPLATE.

Udah? Iya dong. Udah. Simple banget kan? Comment aja kalo mau request tutorial/ada kode error di template.


Monday, August 19, 2013

"Sang Proklamator Pasca Turun dari Kursi Presiden"


Cerita historis ini lebih memilukan daripada kebanyakan kisah-kisah roman yang pernah saya baca. It's hard for me to shed a tear, but who knows, when I read this article, I try to endure the pain and bit my lips. Okay, silahkan dibaca ya.



Tak lama setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dam MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam. Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!".

Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu" kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata "Mereka pergi ke rumah Ibu". Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara". Kata Bung Karno, lalu Bung Karno melangkah ke arah ruang tamu Istana disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan ia makulum, ajudan itu sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. "Aku sudah tidak boleh tinggak di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara."

Semua ajudan menangis saat tau Bung Karno mau pergi "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan..." Salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno. "Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan wajahmu...keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara". Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Bung Karno mau meninggalkan Istana. "Pak kamu memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya". Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa..."

Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini". Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan. Mereka juga berdiri di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran Bung Karno yang ia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara. Lalu dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, Bung Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh Bung Karno untuk keluar kamar. Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Saelan dan Bung Karno menoleh ke arah Saelan. "Aku pergi dulu" kata Bung Karno dengan terburu-buru. "Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak" Saelan separuh berteriak. Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya dan meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.

Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman. Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah namun obat yang biasanya diberikan sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi. Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri gadis Bali untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Bung Karno kepengen duku tapi dia tidak punya uang. "Aku pengen duku, ...Tru, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang" Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo. Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil". Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. "Mau pilih mana, Pak manis-manis nih " sahut tukang duku dengan logat betawi kental. Bung Karno dengan tersenyum senang berkata "coba kamu cari yang enak". Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak "Bapak...Bapak....Bapak...Itu Bapak...Bapaak" Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan" Ada Pak Karno, Ada Pak Karno...." mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada Bung Karno. Awalnya Bung Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno, ia takut rakyat yang tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. "Tri, berangkat ....cepat" perintah Bung Karno dan ia melambaikan ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan susah.

Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira pro Suharto tidak suka. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!

Tak lama setelah Bung Karno dipindahkan ke Bogor, datanglah Rachmawati, ia melihat ayahnya dan menangis keras-keras saat tau wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit berdiri. Saat melihat Rachmawati, Bung Karno berdiri lalu terhuyung dan jatuh. Ia merangkak dan memegang kursi. Rachmawati langsung teriak menangis. Malamnya Rachmawati memohon pada Bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga. "Coba aku tulis surat permohonan kepada Presiden" kata Bung Karno dengan suara terbata. Dengan tangan gemetar Bung Karno menulis surat agar dirinya bisa dipindahkan ke Jakarta dan dekat dengan anak-anaknya. Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Pagi-pagi setelah mengambil surat dari bapaknya, Rachma langsung ke Cendana rumah Suharto. Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget saat melihat Rachma ada di teras rumahnya. "Lhol, Mbak Rachma ada apa?" tanya Bu Tien dengan nada kaget. Bu Tien memeluk Rachma, setelah itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya. Hati Bu Tien rada tersentuh dan menggemgam tangan Rachma lalu dengan menggemgam tangan Rachma bu Tien mengantarkan ke ruang kerja Pak Harto. "Lho, Mbak Rachma..ada apa?" kata Pak Harto dengan nada santun. Rachma-pun menceritakan kondisi Bapaknya yang sangat tidak terawat di Bogor. Pak Harto berpikir sejenak dan kemudian menuliskan memo yang memerintahkan anak buahnya agar Bung Karno dibawa ke Djakarta. Diputuskan Bung Karno akan dirawar di Wisma Yaso.

Bung Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras. Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu, suatu saat Bung Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu, koran itu langsung direbut dan ia dimarahi. Kamar Bung Karno berantakan sekali, jorok dan bau. Memang ada yang merapihkan tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan Bung Karno. Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas perintah seorang Perwira Tinggi. Mahar hanya bisa memberikan Vitamin dan Royal Jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur Bung Karno diberi Valium, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi.

Banyak rumor beredar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma Yaso, beberaoa orang diketahui akan nekat membebaskan Bung Karno. Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno, tapi Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.

Pada awal tahun 1970 Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah datang ke rumah isterinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak. Ketika tau Bung Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak "Hidup Bung Karno....hidup Bung Karno....Hidup Bung Karno...!!!!!" Sukarno yang reflek karena ia mengenal benar gegap gempita seperti ini, ia tertawa dan melambaikan tangan, tapi dengan kasar tentara menurunkan tangan Sukarno dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham dia adalah tahanan politik.

Masuk ke bulan Februari penyakit Bung Karno parah sekali ia tidak kuat berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau. Ia berteriak "Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.

Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. "Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kita itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini". Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah. Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil. Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.

Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.




Mendengar kematian Bung Karno rakyat berjejer-jejer berdiri di jalan. Rakyat Indonesia dalam kondisi bingung. Banyak rumah yang isinya hanya orang menangis karena Bung Karno meninggal. Tapi tentara memerintahkan agar jangan ada rakyat yang hadir di pemakaman Bung Karno. Bung Karno ingin dikesankan sebagai pribadi yang senyap, tapi sejarah akan kenangan tidak bisa dibohongi. Rakyat tetap saja melawan untuk hadir. Hampir 5 kilometer orang antre untuk melihat jenazah Bung Karno, di pinggir jalan Gatot Subroto banyak orang berteriak menangis. Di Jawa Timur tentara yang melarang rakyat melihat jenasah Bung Karno menolak dengan hanya duduk-duduk di pinggir jalan, mereka diusiri tapi datang lagi. Tau sikap rakyat seperti itu tentara menyerah. Jutaan orang Indonesia berhamburan di jalan-jalan pada 21 Juni 1970. Hampir semua orang yang rajin menulis catatan hariannya pasti mencatat tanggal itu sebagai tanggal meninggalnya Bung Karno dengan rasa sedih. Koran-koran yang isinya hanya menjelek-jelekkan Bung Karno sontak tulisannya memuja Bung Karno.


Bung Karno yang sewaktu sakit dirawat oleh dokter hewan, tidak diperlakukan dengan secara manusiawi. Mendapatkan keagungan yang luar biasa saat dia meninggal. Jutaan rakyat berjejer di pinggir jalan, mereka melambai-lambaikan tangan dan menangis. Mereka berdiri kepanasan, berdiri dengan rasa cinta bukan sebuah keterpaksaan. Dan sejarah menjadi saksi bagaimana sebuah memperlakukan orang yang kalah, walaupun orang yang kalah itu adalah orang yang memerdekakan bangsanya, orang yang menjadi alasan terbesar mengapa Indonesia harus berdiri, Tapi dia diperlakukan layaknya binatang terbuang, semoga kita tidak mengulangi kesalahan seperti ini lagi... (sumber)

CATATAN PENTING :

Untuk klarifikasi bacaan diatas, SOEKARNO TIDAK DIRAWAT OLEH DOKTER HEWAN. Statement tersebut telah diberikan dari istri dokternya sendiri lewat sebuah artikel di Kompasiana. Berita lebih lengkapnya bisa dibaca disini. Ini bisa dijadikan acuan untuk meluruskan sejarah.




Saturday, August 17, 2013

Selamat Ulang Tahun Ke 68, Indonesia

Halo, Indonesia. Apa kabar? Masih butek? Saya senang lho bisa berjumpa lagi dengan ulang tahun kamu. Gimana? Seneng gak didoain berjuta-juta orang supaya maju? Supaya tambah keren gitu? Hehe. Semoga suatu saat, saya bisa mengangkat nama kamu ya. Semoga.


Dalam sebuah sesi latihan karate saat saya masih SD, salah satu senpai saya kala itu berkata: "Dari jaman saya diperut, belum lahir, sampai istri saya ngelahirin lagi, Indonesia masih aja disebut 'negara berkembang'... Gak maju-maju." Saya ingat persis keluhannya saat itu. Karena diwaktu yang bersamaan, perut saya sedang kesakitan lantaran habis ditendang senpai lain akibat lemah konsentrasi.

Sambil terus memegangi perut, saya pun berkonsentrasi dengan pikiran bahwa jangan-jangan 'berkembang' itu hanya sekedar kiasan belaka. Pada mata pelajaran Biologi, kita tentu tahu semua yang 'berkembang' pada akhirnya akan menjadi suatu 'individu utuh' atau 'individu sempurna'. Karena dalam prosesnya, kita akan senantiasa melewati berbagai tahap dan pada akhirnya secara psikologis telah mampu melakukan hal-hal kualitatif dalam lingkungan.
Kenapa disebut negara berkembang? 
1. Sebagian besar penduduk bekerja di sektor pertanian.
2. Industrinya biasanya berlatarbelakang agraris, terutama memanfaatkan hasil kehutanan, pertanian, dan perikanan (industri 3. sektor pertama dan sektor kedua).
4. Tenaga pertanian masih mengandalkan tenaga kerja manusia.
5. Luas lahan garapan relatif sempit dengan teknologi yang sederhana sehingga hasilnya tidak maksimal.
5. Pendapatan per kapita rendah.
7. Angka kelahiran dan kematian masih tinggi.
8. Tingginya angka pengangguran karena besarnya jumlah penduduk dan terbatasnya lapangan pekerjaan.
9. Pendidikan formal tersebar secara tidak merata dengan kualitas yang buruk.
10. Kelebihan jumlah penduduk yang menyebabkan tidak terjangkau atau tidak meratanya pelayanan sosial.
11. Kedudukan dan peran wanita sangat terbatas dan cenderung dipandang sebagai kelas dua.

Nyatanya, banyak negara memprotes adanya statement 'developing country' hanya berdasarkan inferioritas. Menurut saya pribadi, 'negara berkembang' bukanlah panggilan yang menyakitkan. Di Benua Amerika sendiri, terdapat 30+ states yang masih mendapat julukan tersebut. Di Benua Asia lebih banyak, sekitar 40 negara lebih. Benua Afrika lebih naas lagi, karena tidak ada satupun negara mereka yang termasuk dalam golongan negara maju. Beberapa negara bagiannya bahkan masuk dalam list negara-negara tertinggal di dunia. Lantas, apakah julukan 'berkembang' adalah suatu hal yang buruk? Tentu tidak. Saya lebih suka menyebutnya sebagai proses. In process, anything could happen. It can be worse, it can be better. It depends on how you think and organize.

Saya rasa, Indonesia punya potensi yang SANGAT BESAR untuk menjadi negara maju. (sebagai wujud keseriusan, saya bahkan telah menggunakan caps lock, bold, italic, dan underline sebagai penekanan LOL).

YANG DIBUTUHKAN :
1. Kejujuran dan kredibilitas para pemimpin negara
2. Niat, kemauan, serta keseriusan
3. Memperbaiki bidang pendidikan dan pola pikir
4. Berhenti mencampurkan unsur AGAMA dengan POLITIK
5. Rencana yang MATANG, dan EFEKTIF
6. Biaya yang memadai

PEMBAHASAN:
1. Kenapa saya taruh kejujuran dan kredibilitas sebagai point pertama, instead of 'niat'? Well, jawabannya simpel saja. Di Indonesia, konon kejujuran dan kredibilitas seorang pemimpin mahal harganya. Tapi kita tidak butuh kejujuran yang mahal, kita butuh kejujuran yang tidak bisa dibeli oleh uang. No wonder banyak pemimpin negara yang korupsi. Logikanya, semahal apapun sesuatu, jika bisa dihitung dengan harga, pasti akan ada yang 'beli' :) anyone got my point here? Hehe. Yang seperti inilah yang harus dibenahi dari awal. Pemimpin adalah leader suatu bangsa. Apapun yang dilakukan oleh sang penguasa akan senantiasa dicontoh oleh jutaan orang yang dibawahinya. Sebagai refleksi, apapun yang diusahakan seluruh warga negara untuk Indonesia yang lebih baik tidak akan dapat terwujud jika para pemimpin tidak mau membudidayakan 'HIDUP SEHAT TANPA KORUPSI, SOGOK, PENCUCIAN UANG, DAN SEGALA BENTUK UANG HARAM.'

2. Tanpa harus dibahas lagi, sepertinya segala sesuatu tanpa dibarengi dengan niat dan keseriusan tidak akan berjalan dengan baik. :)

3. PENDIDIKAN adalah aset terpenting suatu bangsa, menurut saya. Pendidikan yang saya maksud disini bukanlah sekedar pendidikan teori, dengan hasil sebuah nilai di atas kertas, dan selembar pengakuan bernama ijazah. Kurikulum pendidikan SANGAT HARUS dibenahi lagi. Pemerataan subsidi pendidikan di daerah-daerah masih semrawut. Banyak anak SD/SMP/SMA sederajat harus menerjang badai (literally) hanya untuk mengenyam pendidikan formal. Sementara para pejabat yang memakan uang mereka duduk santai di kursi malas mereka. Miriskah anda melihat ini?





Pendidikan masih harus dibenahi lagi. Terutama dalam bidang memacu niat siswa dalam belajar, dan membagi porsi dengan aktivitas sehari-hari mereka. Misalnya ada seorang anak yang lemah di pelajaran eksak, tapi jempolan dalam bidang olahraga, apakah sekolah mampu memberikan jalan keluar terbaik bagi sang siswa? Nyatanya, selama ini saya lihat TIDAK. Mereka tidak mendapatkan kompensasi apapun. Kalau tidak terancam drop out, ya tidak naik kelas. Oh indahnya. Lihat bagaimana anak-anak di berbagai negara maju dididik sedemikian rupa sehingga mereka bisa menjadi pribadi yang lebih BERBOBOT. Ini adalah artikel yang saya temukan di Kompasiana. Dan saya rasa bisa menjadi bahan pertimbangan yang baik.
Ketika anak-anak disuruh menghormati kain: 
Seorang dosen ITB pernah heran ketika menyaksikan seorang supir bus di Amerika Serikat mengantarkan anak sekolah dengan begitu baiknya.
Dosen itu lalu bertanya, “Kenapa Anda mengantarkan mereka dengan baik, mereka kan masih anak-anak?”
Sang supir menjawab dengan menakjubkan, “Hey man, siapa menyangka salah satu dari yang saya antar tadi adalah calon presiden nantinya.”
*****
Dalam tulisannya, Arief Setiawan menceritakan bahwa seorang guru di Australia berkata, “Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”
Alasan guru itu luar biasa: karena kita hanya perlu melatih anak selama tiga bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.
*****
Apa hubungan dua cerita di atas dengan judul di atas? Hehehe….iyayah, apa hubungannya? Hehe..
Saya cuma ingin berkata: bagi saya, orang Islam yang berakal, menghormati kain itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Jadi jangan ajar anak-anak kita menghormati bendera, tapi ajarilah mereka menghormati pahlawan!
Dalam pada itu, menghormati bendera adalah kebodohan yang nyata. Jadi, jangan ajari anak-anak kita dengan kebodohan.
Ilmu itu bisa diajarkan dan dipelajari. Tapi manner dan behavior seseorang BEDA lagi. Coba lihat orang-orang pemerintahan kita. Jangan salah, mereka bukan orang-orang sembarangan. Rata-rata merupakan lulusan PTN terbaik, sebagiannya lagi bahkan lulusan universitas luar bergengsi. Orang-orang pilihan yang cerdas, bukan? Tapi yang terjadi saat ini, adalah maraknya kasus korupsi dan skandal-skandal seks tidak penting.


Apa yang kurang? Kita tidak mendapatkan didikan kepribadian dan didikan menjalani hidup di sekolah! Kita tidak diajarkan caranya berbicara santun, berpendapat dengan baik, dan pendidikan moral yang memadai. Selama nilai di atas kertas dirasa cukup untuk mengakreditasikan 'isi otak' kita, sekolah bungkam. Padahal nilai di atas kertas samasekali bukan jaminan. Inilah kenapa di Indonesia marak sekali kekerasan antar pelajar. Bullying, tawuran, sampai ada yang terluka bahkan tewas.


Hey guys and girls, is hurting anyone make you happy? What a big jerk you are. You think you're cool and all by suppressing your junior and such? WELL, I don't know about you, but please, make it stop. Disaat orang lain dapat medali emas OSN, disaat orang lain menang kontes nyanyi di Mesir, disaat orang lain jadi juara internasional bulu tangkis, dan lo masih merasa jagoan karena adek kelas lo takut sama lo? For fuck's sake, grow up. Dan please punya urat malu sedikit.



4. Be a free thinker. You can be wrong and right at the same time. Yang membuat Indonesia susah bergerak adalah kenyataan bahwa susahnya rakyat Indonesia terdorong buat berubah. Berubah dalam berbagai hal. Terutama dalam urusan MENCAPURKAN urusan agama dengan politik.



Bagaimanapun, kedua unsur itu tidak akan bisa bersatu. Masih ngeyel lagi? Riweuh banget sih kalo dibilangin? Terserah mau ngecap saya sekuler, atheis, agnostik, sekuler, terserah. Lihat aja betapa enegnya Ahok sama orang-orang yang suka mencampuri urusan agama dan politik disini. Sama halnya dengan Ahok, saya gak keberatan dicap kafir asal saya dapat meluangkan apa yang menurut saya  benar. Islam memang mayoritas agama di Indonesia. Namun itu bukan berarti Islam yang punya Indonesia. Kita punya banyak ras disini, hargailah. Kalau kalian mengaku umat beragama, jalani saja masing-masing dengan tentram. Tanpa harus adanya kekerasan macam FPI (yang harusnya dibubarkan dari jaman Fir'aun masih madrasah) Indonesia tentu bisa maju. Pemboman dengan dalih jihad? What the fuck. You can just explode your body and the entire building to get rid of 'Kafir' people. That's just so damn stupid. Lo bunuh semua orang 'kafir' di gedung itu dengan alasan jihad? Bego. Masih banyak orang kafir lainnya di luar sana. Bahkan dari agama lo juga banyak. So stop being ridiculous dengan mempermalukan keluarga, negara, dan agama lo sendiri.

5. Banyak rencana-rencana pembangunan di Indonesia yang gak jalan karena mandek di duit. Kebanyakan korup dan gak transparan, sih. Indonesia punya peluang yang besar buat jadi negara ideal. Cuma ya gitu, korupsi itu awal dan akhir. Dari kehancuran.

6. Udah. Biaya saya taro di akhir. Soalnya tanpa biaya semuanya gak akan bisa jalan.

*****

Tulisan ini saya buat tanpa maksud menyinggung pihak manapun. Bilamana ada data yang terasa kurang/tidak pantas untuk ditampilkan, harap contact saya agar tidak menjadi info yang menyesatkan. Maaf juga bila saya terkesan rude/harsh, well, after all... I don't care. It's a goddamn internet. You take it, or you leave it.

That's all. Sebagai penutup, saya hanya mau berkata: I don't want you to think like me, I just want you to THINK.



Wednesday, August 14, 2013

240 Detik

Tahun ini, takbir kembali bergema di telinga gw, namun di tempat yang samasekali berbeda.

Buat gw, waktu selalu berjalan begitu lambat. Mungkin karena faktor masa kecil yang sering berpindah-pindah dari pulau ke pulau yang lainnya, atau karena gw bukan tipe orang yang family-oriented, sehingga tidak terlalu hanyut dalam euforia acara-acara yang diperingati secara luas. Well, who knows.

Yang bahaya dari waktu adalah kekuatannya memanipulasi logika. Sering kita dengar pernyataan: "Rasanya baru kemarin..." padahal 'kemarin' yang dimaksud adalah hari ini, tiga belas tahun yang lalu. Pecah, kan? Waktu itu hebat. Ia bisa membuat orang yang waras jadi delusional. Padahal bumi tetap berevolusi dalam skala normal. Bahkan Salvador Dali telah lebih dulu mengabadikan waktu sebagai sesuatu yang 'ajaib' hingga ia menciptakan "The Persistence Of Memory", atau yang lebih kita kenal dengan lukisan Surreal Melting Clock.



Ya. Begitu hebatnya waktu hingga konon, ada saja orang-orang dari berbagai negara yang rela mengeluarkan kocek jutaan hingga milyaran dollar hanya untuk 'mengutak-ngatik' dan melakukan penelitian-penelitian ilmiah demi kemungkinan proyek time travel. As a big fan of sci-fi movies and stuff, I really enjoy it. Walaupun para ilmuwan melakukan penelitian hanya berdasar teori efek perlambatan Einstein yang disebut 'paradoks kembar', belum ada hukum fisika yang mampu mewujudkan mesin waktu itu sendiri. Mungkin di masa milenium mendatang, 'mesin waktu' yang sering didengung-dengungkan di komik Doraemon bisa terwujud. Tapi jujur aja gw rasa, lebih baik jika benda tersebut tidak ada. Kenapa? Karena jika terbuka untuk umum, benda itu bisa menimbulkan kekacauan dan melawan apa yang seharusnya terjadi. Ingat, benda tersebut juga bisa memecah belah takdir seseorang dengan orang yang lain bahkan degan lingkungannya sendiri. Pokoknya, jika sistemnya sembarangan dan asal pakai, fix banget bakal mengakibatkan kekacauan tiada akhir. Mungkin kiamat adalah waktu dimana waktu sudah tidak ada artinya lagi. Sehingga orang tidak mempunyai acuan tertentu dalam menjalani kehidupan, dan persis, menandai itu semua, kita kembali ke nol. We're fucking doomed.

Apa gw over exaggerating? Ngga juga. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kalo waktu udah gak ada artinya lagi. Kalo kata Katy Perry, 'like a plastic bag, drifting through the wind'. Gw emang gak begitu ngerti definisi 'like a plastic bag' menurut Mbak Keti, tapi yang gw tangkep adalah: plastic bag selalu bisa terbawa angin, tipis, dan 'hayuk hayuk ajah'. Mau hidup kamu ditentukan orang lain? Jujur aja, gw sih nggak :D

Gw selalu yakinin diri gw bahwa waktu pasti berjalan seperti yang seharusnya. Mati itu pasti. Tapi ya udah. Selama masih bisa bernapas, jalanin aja. 240 detik adalah waktu yang cukup untuk mengingat hal-hal yang menyenangkan sampai saat ini. Ketika gw 'empet' sama orang-orang disekitar gw, gw selalu yakinin diri gw bahwa kehidupan gw sudah menyenangkan. Dan 240 yang kita pakai setiap hari untuk memperbaiki mood bukan waktu yang banyak kan? Jadi apa salahnya. Gw mulai menerapkan konsep ini sejak masuk SMA. Jujur aja, abis itu pikiran gw langsung enteng dan semriwing. Dengan pikiran ringan, tentu saja kita bakal lebih cerdas dalam memilih keputusan.

Jadi, 240 detik setiap hari, is quite worth it right? :)